ALIANSI.id — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui UPTD Museum Tsunami Aceh memungkas agenda edukasi kebencanaan terpadu bertajuk “Belajar Bersama di Museum” di Aula Lantai II Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Kamis (23/7/2026).
Program yang berlangsung selama empat hari, sejak Senin hingga Kamis, 20–23 Juli 2026 ini berfokus pada penguatan literasi mitigasi, kesiapsiagaan mental, dan keterampilan bertahan hidup (survival skills) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Mengusung tema “Tsunami Brave: Mengubah Ketakutan Menjadi Ketangguhan Bersama”, intervensi pedagogis ini menyasar kelompok remaja pada usia produktif. Formulasi program dirancang untuk mentransformasi memori trauma kebencanaan masa lalu menjadi kapasitas resiliensi aktif melalui pendekatan yang aplikatif.
Para peserta mendapatkan pembekalan komprehensif yang memadukan pendalaman materi interaktif, simulasi taktis Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR), serta penelusuran ruang pameran guna menginternalisasi kearifan lokal masyarakat Aceh dalam merespons bencana.
Guna memastikan transfer pengetahuan berjalan secara multidisipliner, UPTD Museum Tsunami Aceh menghadirkan jajaran pakar dan praktisi kebencanaan, di antaranya Yusri Kasim, T. Erwin Irham, dr. Meilya Silvalila, serta Desi Marlizar.
Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M. Syahputra Azwar, menegaskan reorientasi fungsi museum yang kini dieksplorasi sebagai ruang publik edukatif dan inklusif.
“Sesuai dengan tema ‘Tsunami Brave’, tujuan utama kami adalah mengubah paradigma dan rasa trauma atau ketakutan akan bencana di masa lalu menjadi sebuah kekuatan dan ketangguhan bersama. Ketika generasi muda dibekali ilmu pengetahuan dan keterampilan medis dasar, mereka tidak lagi panik saat menghadapi kondisi krisis, melainkan mampu menjadi agen penyelamat bagi keluarga dan lingkungannya,” ujar Syahputra.
Penekanan metodologi pembelajaran turut disampaikan oleh Kepala Seksi Edukasi dan Preparasi UPTD Museum Tsunami Aceh, Abdul Lathief. Menurutnya, pendekatan edukasi luar ruang (experiential learning) harus menyelaraskan preferensi belajar generasi masa kini yang cenderung multisensori.
“Program ini mengombinasikan metode pembelajaran visual, auditori, dan kinestetik agar tidak monoton. Para siswa tidak sekadar menerima teori secara pasif, melainkan mempraktikkan langsung teknik CPR dan simulasi evakuasi mandiri. Model preparasi yang dinamis ini diharapkan dapat menjadi rujukan (role model) pembelajaran eksternal bagi institusi pendidikan di seluruh Aceh,” jelas Lathief.
Rangkaian kegiatan ini kian mempertegas peran Museum Tsunami Aceh tidak hanya sebagai monumen peringatan sejarah (historical memorial), melainkan juga sebagai pusat rekayasa literasi kebencanaan yang berorientasi pada keselamatan publik jangka panjang. []
