ALIANSI.id — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Fraksi Partai Demokrat, H. Tantawi, S.I.P., M.A.P., menyampaikan harapan rakyat kecil kepada Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem). Tantawi menyampaikan aspirasi tersebut dalam rapat paripurna DPRA di Banda Aceh, pada Rabu, 20 Mei 2026.
Ia menyoroti berbagai persoalan mendesak mulai dari pemulihan sektor pertanian, karut-marut data bantuan sosial, hingga infrastruktur jembatan yang rusak. Tantawi meminta Pemerintah Aceh segera mengambil tindakan nyata demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Tantawi menilai Pemerintah Aceh belum menangani kerusakan lahan pertanian secara maksimal setelah bencana alam enam bulan lalu. Kondisi ini mengancam produktivitas pangan dan perekonomian warga.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Tantawi mendesak Pemerintah Aceh segera menyurati Kementerian Pertanian. Langkah ini bertujuan mempercepat rehabilitasi lahan agar mata pencaharian warga dapat terselamatkan.
Evaluasi Data Desil Bantuan Sosial
Selain masalah pertanian, Tantawi juga mengkritik penggunaan data desil bantuan sosial yang tidak akurat di lapangan. Banyak warga miskin masuk kategori desil delapan ke atas sehingga kehilangan hak bantuan.
Dampaknya, anak-anak dari keluarga miskin terancam kehilangan akses beasiswa pendidikan, seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah). Bencana banjir besar beberapa waktu lalu juga memperparah kemiskinan dan membuat warga kembali ke titik nol.
Oleh karena itu, Tantawi meminta Pemerintah Aceh segera menyurati Kementerian Sosial RI untuk membenahi data penerima manfaat. Ia menegaskan, jangan sampai persoalan administratif merugikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Desakan Perbaikan Infrastruktur
Di sisi lain, Tantawi mengapresiasi langkah Mualem yang menganggarkan pembangunan jalan Krueng Mane–Sawang tembus Bireuen. Namun, ia mengingatkan pemerintah mengenai keberadaan jembatan rangka baja yang putus di kawasan itu.
Akibat jembatan putus tersebut, para pelajar dan warga terpaksa menggunakan rakit penyeberangan yang berbahaya. Saat banjir tiba, jembatan darurat sering hanyut dan anak-anak terpaksa berenang demi pergi ke sekolah.
Sebagai penutup, Tantawi meminta Pemerintah Aceh memprioritaskan pembangunan jembatan tersebut pada tahun ini. Langkah cepat ini sangat penting untuk mencegah timbulnya korban jiwa di masa mendatang. []
