ALIANSI.id — Menyempitnya kawasan hutan di lanskap Cot Girek, Aceh Utara, membuat jalur penjelajahan gajah semakin beririsan dengan aktivitas warga.
Merespons kondisi tersebut, Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO) bersama Lembaga Pembelaan Lingkungan Hidup dan Hak Asasi Manusia (LPLHa) merestorasi lahan kritis di Gampong Peureupok, Kecamatan Paya Bakong, untuk mengembalikan habitat alami gajah dan memitigasi konflik antara manusia dan satwa liar.
Langkah pemulihan ekosistem ini sudah berjalan sejak tahun 2023 melalui program keberlanjutan yang melibatkan masyarakat dan petani lokal. PHE NSO bersama warga rutin menanam pohon-pohon endemik untuk mengembalikan ruang jelajah gajah dan menghidupkan kembali keanekaragaman hayati di lanskap Cot Girek.
Lebih lanjut, para pihak terkait juga menyusun peta jalan penyelesaian konflik manusia dan gajah sebagai acuan dalam mengelola kawasan secara berkelanjutan.
Sebagai pusat edukasi dan pemantauan program konservasi, PHE NSO bersama para pemangku kepentingan meresmikan Biodiversity Camp Center pada akhir Agustus lalu. Fasilitas ini mengkolaborasikan peran Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, LPLHa, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Aceh Utara, M. Nasir, yang hadir untuk meresmikan fasilitas tersebut, menekankan peran vital masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Aspek kolaborasi sangat penting dalam upaya melakukan restorasi dan menjaga hutan. Masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan juga memiliki peran penting dalam memastikan perlindungan lingkungan,” ujar M. Nasir dalam keterangan media, Rabu, 9 September 2026.
Ia juga mengingatkan bahwa perlindungan alam harus membawa manfaat bagi manusia di sekitarnya.
“Kawasan ini bukan sekadar menjadi habitat berbagai satwa seperti gajah dan tumbuhan, tetapi juga ruang kehidupan masyarakat di lokasi. Karena itu, keseimbangan harus dijaga bersama,” kata Nasir.
Sejalan dengan pandangan pemerintah daerah, Field Manager PHE NSO, Riski Kushardani, menyampaikan bahwa partisipasi aktif warga merupakan kunci utama keberhasilan program pelestarian lingkungan jangka panjang. Ia menilai bahwa aksi penanaman pohon yang melibatkan warga sekitar adalah kunci pemulihan lahan kritis.
“Penanaman pohon merupakan langkah nyata untuk memperkuat pemulihan ekosistem dan menjaga habitat berbagai satwa di kawasan tersebut,” ujarnya.
Riski pun menegaskan bahwa perusahaan merancang program restorasi ini agar kelestarian ekosistem dan kehidupan warga dapat berjalan beriringan tanpa saling merugikan.
“Pengelolaan keanekaragaman hayati tidak dapat hanya berfokus pada perlindungan satwa. Upaya tersebut juga harus berjalan seiring dengan perlindungan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Riski. []
