ALIANSI.id — Kelompok Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri 03 UIN Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melatih warga Desa Cot Iboeh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, mengolah sampah plastik menjadi paving block bernilai ekonomi pada Rabu (5/8/2026).
Langkah ini menjadi upaya inovatif mahasiswa dalam mendampingi masyarakat mengubah limbah lingkungan menjadi produk bernilai jual.
Melalui program pengabdian bertema pemanfaatan limbah bernilai guna tersebut, para mahasiswa mengenalkan teknik pengolahan sampah plastik anorganik yang sulit terurai agar menjadi bahan bangunan yang bermanfaat.
Ketua Kelompok KPM, M. Dimas Aditya, menyampaikan bahwa dalam praktiknya, mahasiswa memperagakan pembuatan paving block menggunakan tiga bahan utama yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, yakni sampah plastik (60 persen), oli bekas (10 persen), dan pasir (30 persen).
“Proses pembuatan dimulai saat peserta menyiapkan wajan bekas sebagai wadah pencampuran. Pertama, peserta memanaskan oli bekas di atas wajan. Setelah suhu oli cukup panas, peserta memasukkan sampah plastik yang telah dipastikan kering secara bertahap,” jelas Dimas.
Selanjutnya, peserta memanaskan plastik hingga meleleh sempurna dan menyatu dengan oli. Setelah seluruh plastik mencair, peserta mencampurkan pasir ke dalam adonan cair tersebut. Peserta kemudian mengaduk campuran hingga merata, lengket, dan memadat.
Pada tahap akhir, peserta menuangkan adonan ke dalam cetakan paving block. Peserta meratakan serta memadatkan campuran sesuai dengan bentuk cetakan, lalu membiarkannya hingga mengeras dan membentuk paving block yang kokoh.
Pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis bagi warga Desa Cot Iboeh, tetapi juga menanamkan pemahaman mendalam mengenai pentingnya pengelolaan sampah secara mandiri. KPM Mandiri 03 UIN SUNA berupaya membuka wawasan masyarakat bahwa limbah rumah tangga yang semula dianggap tidak berharga dapat mendatangkan peluang usaha baru.
Melalui kontribusi nyata ini, KPM Mandiri 03 UIN SUNA Lhokseumawe berharap masyarakat dapat mereplikasi inovasi sederhana ini secara berkelanjutan untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan perekonomian desa. []
