ALIANSI.id — Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Aceh Utara bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Provinsi Aceh mendokumentasikan jejak perjuangan Pahlawan Nasional Cut Meutia melalui kegiatan “Napak Tilas Hidden Heritage Makam Cut Meutia Aceh Utara” pada 15–16 Agustus 2026.
Lebih dari 50 peserta yang terdiri atas pendidik, pegiat budaya, komunitas, dan elemen masyarakat menembus kawasan hutan rimba serta perbukitan pedalaman Aceh Utara demi mengangkat potensi warisan sejarah yang tersembunyi.
Rombongan mengawali perjalanan dari SMAN 1 Matangkuli pada pukul 08.00 WIB setelah dilepas oleh Wakil Ketua IGI Aceh Utara sekaligus Kepala SMAN 1 Matangkuli, Zulfikar. Tim kemudian bergerak menembus lanskap alam pedalaman yang dahulu menjadi medan gerilya para pejuang Aceh.
Melalui penjelajahan langsung ini, para peserta dapat mengamati jalur perjuangan dari dekat sekaligus menyusuri dan mencatat sejumlah objek budaya lokal di sepanjang rute.
Selain menggelar ziarah dan doa bersama di kompleks makam Cut Meutia, tim memanfaatkan seluruh rangkaian perjalanan untuk mengumpulkan materi edukasi. Seluruh momentum—mulai dari titik keberangkatan, penjelajahan hutan, ziarah, hingga pemetaan situs budaya—terkam dalam dokumentasi audiovisual.
Dokumentasi tersebut nantinya dihimpun ke dalam film perjalanan bertajuk “Napak Tilas Hidden Heritage Makam Cut Meutia”.
Rencana penerbitan film tersebut menjadi sarana penting untuk membawa narasi sejarah, kondisi alam, dan pesan pelestarian budaya ke dalam ruang kelas sebagai media pembelajaran interaktif bagi generasi muda. Dalam mewujudkan agenda pelestarian ini, IGI Aceh Utara dan BPK Provinsi Aceh juga menggandeng Yayasan Warisan Jeumpa Cendekia serta Sahabat Budaya sebagai mitra strategis.
Kegiatan yang mengusung tema “Jelajah Sejarah, Objek Budaya, dan Jejak Perjuangan Srikandi Aceh” ini juga memiliki arti emosional tersendiri karena menandai momentum penutup masa kepengurusan IGI Aceh Utara periode saat ini.
Ketua IGI Kabupaten Aceh Utara, Qusthalani, S.Pd., M.Pd., mengutarakan alasannya memilih kegiatan ini sebagai penutup masa baktinya.
“Ini merupakan kegiatan penutup dalam kepengurusan saya di IGI Aceh Utara. Saya sengaja ingin menutup masa kepengurusan ini dengan kegiatan yang memiliki nilai pendidikan, sejarah, budaya, dan kemanusiaan. Napak tilas ini bukan sekadar perjalanan menuju makam Cut Meutia, melainkan sebuah ikhtiar untuk mempertemukan guru dan generasi muda dengan jejak sejarah di lingkungan mereka sendiri,” ujar Qusthalani.
Ia menambahkan bahwa partisipasi puluhan peserta dari berbagai latar belakang membuktikan pentingnya keterlibatan kolektif dalam menjaga warisan sejarah.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa warisan sejarah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas budaya. Guru, sekolah, generasi muda, masyarakat, dan berbagai organisasi juga memiliki peran. Ketika sejarah dibawa ke ruang belajar melalui pengalaman langsung, nilai-nilai perjuangan akan lebih mudah dipahami dan diwariskan,” tambahnya.
Menutup keterangannya, Qusthalani menegaskan bahwa pergantian kepengurusan tidak boleh menghentikan ikhtiar melestarikan sejarah dan budaya daerah.
“Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti pada perjalanan dua hari ini saja. Film yang dihasilkan nantinya menjadi jejak dokumentasi dan warisan untuk generasi berikutnya. Kepengurusan boleh berganti, tetapi gerakan literasi sejarah, pelestarian budaya, dan pendidikan berbasis kearifan lokal harus terus berjalan,” pungkasnya. []
