Indeks
Sosok  

Sukarna Putra, Sang Penyelamat Memori Samudra Pasai Diganjar Penghargaan Bergengsi

Sukarna Putra, peneliti sejarah dan epigraf Aceh, berfoto dengan Camat Tanah Jambo Aye, Fauzi Saputra, usai menerima Anugerah Tokoh Pemuda Inspiratif Aceh Utara 2026 dari Bupati Aceh Utara, pada malam puncak Milad ke-800 Samudra Pasai
Sukarna Putra, peneliti sejarah dan epigraf Aceh, berfoto dengan Camat Tanah Jambo Aye, Fauzi Saputra, usai menerima Anugerah Tokoh Pemuda Inspiratif Aceh Utara 2026 dari Bupati Aceh Utara, pada malam puncak Milad ke-800 Samudra Pasai, Senin (14/9). 📷: For Aliansi.ID

ALIANSI.id — Menyelamatkan sebongkah nisan kuno bukan sekadar menjaga batu dari ausnya zaman, melainkan merawat lembaran sejarah peradaban bangsa yang terancam musnah ditelan masifnya pembangunan.

Prinsip fundamental inilah yang menuntun langkah Sukarna Putra, seorang peneliti sejarah dan epigraf asal Aceh, hingga ia meraih Anugerah Tokoh Pemuda Inspiratif Aceh Utara 2026 di bidang pelestarian sejarah dan budaya.

Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa), menyerahkan langsung penghargaan prestisius tersebut pada malam puncak penutupan rangkaian Milad ke-800 Samudra Pasai dan Piasan Pase, Senin, 14 September 2026.

Penganugerahan ini mengukuhkan pengakuan publik atas dedikasi tanpa henti pria kelahiran Syamtalira Aron tersebut dalam merawat memori kolektif masyarakat Aceh.

Usai turun dari panggung penganugerahan, Sukarna langsung memalingkan sorot kemenangannya kepada rekan-rekan seperjuangan. “Penghargaan ini saya dedikasikan kepada seluruh anggota CISAH, kepada mereka yang berpeluh keringat merawat tinggalan sejarah Samudra Pasai,” ucapnya.

Lebih dari sekadar merayakan penghargaan, Sukarna memanfaatkan momentum tersebut untuk menggaungkan advokasi sejarah. Ia mendorong pemerintah daerah agar berani melakukan kolaborasi lintas sektoral demi meluruskan sejarah, terutama merespons polemik 800 tahun usia Kerajaan Islam Samudra Pasai.

Menurutnya, meluruskan sejarah merupakan upaya esensial yang tidak bisa ditawar untuk menjaga integritas ilmu pengetahuan, identitas, serta kesadaran kolektif masyarakat. “Sejarah sering kali diibaratkan sebagai fondasi sebuah rumah; jika fondasinya dibangun di atas narasi yang keliru atau dimanipulasi, maka pemahaman generasi mendatang juga akan rapuh,” paparnya.

Ia pun menguatkan pesannya dengan mengutip pepatah dalam bahasa Aceh yang kental, “Nyoe mandum warisan keu aneuk cucoe, bek sampe udep sabe lam lumpoe.”

Beranjak dari kesadaran kultural tersebut, Sukarna sangat mengharapkan dukungan regulasi dan finansial dari pemerintah. Ia meyakini sentuhan kebijakan yang tepat mampu menggerakkan pariwisata sejarah dan melestarikan cagar budaya.

“Bukankah ini akan membawa keuntungan PAD bagi daerah! Sejahtera rakyatnya, bangkit ekonominya, lestari sejarahnya,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Camat Tanah Jambo Aye, Fauzi Saputra, S.IP, ikut mengapresiasi dedikasi pria yang bertahun-tahun keluar masuk hutan demi nisan kuno tersebut. Ia menilai sang peneliti sangat pantas menerima apresiasi tertinggi.

“Dedikasi Sukarna layak diganjar penghargaan,” kata Camat Fauzi sembari mengucap selamat.

Sebagai Wakil Ketua Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) sekaligus Kurator Museum Islam Samudra Pasai, Sukarna membuktikan dirinya bukan tipikal peneliti yang hanya duduk merangkai teori di balik meja.

Ia memotori berbagai inisiatif taktis untuk menyelamatkan situs kepurbakalaan, bahkan rela blusukan menembus lebatnya hutan dan rawa. Peran ganda ini memampukannya menjembatani temuan arkeologi dan epigrafi di lapangan dengan penyajian data historis yang autentik kepada ruang publik.

Rekam jejak Sukarna dan timnya mencakup beragam ekspedisi krusial yang menyingkap tabir peradaban Asia Tenggara. Belum lama ini, pada 2026, ia memimpin tim meninjau temuan makam kuno di kawasan HGU PTPN IV Regional VI Cot Girek, Aceh Utara.

Di lokasi tersebut, mereka menemukan artefak berharga berupa batu berinskripsi Arab dari abad ke-15 Masehi. Inskripsi ini memuat untaian doa yang masih terbaca jelas:

“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Jauh sebelum penemuan di Cot Girek, tepatnya pada November 2023, Sukarna telah merambah hingga ke Situs Kota Rantang di Sumatra Utara. Penjelajahan panjang ini sukses menyingkap keberadaan nisan tipe wajah Pasai hingga tipe Kulahkama (mahkota).

Temuan arkeologis tersebut membuktikan adanya hubungan erat antara era Samudra Pasai dengan Kerajaan Haru Islam, sekaligus secara ilmiah membantah narasi hikayat yang kerap menyajikan permusuhan di antara keduanya.

Kiprah penelusurannya kian lengkap ketika pada 2020 ia melacak makam tokoh bergelar haji pertama di Asia Tenggara di kawasan Seunuddon. Pada tahun yang sama, ia juga memublikasikan temuan nisan Sultan Munawwar Syah, kakek dari pelopor Kerajaan Aceh Darussalam, Sultan ‘Ali Mughayat Syah.

Selain gigih melacak situs yang hilang, figur yang akrab disapa Ustaz Sukarna Putra ini aktif mengonservasi artefak bersejarah secara ilmiah. Ia memfasilitasi kolaborasi internasional untuk mendokumentasikan artefak secara digital dan membedah makna di balik inskripsi nisan kuno.

Di Tanah Jambo Aye, ia berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara untuk memugar makam Banta Saidiy. Lewat ketajamannya dalam kajian tipologi, ia berhasil mengidentifikasi bentuk makam dan kaligrafi yang menunjukkan ketokohan sosok tersebut, meski ia tetap menyayangkan kondisi nisan batu pasir di sana yang kini mulai patah dan aus.

Pada akhirnya, Sukarna menggenapi dedikasinya dengan menaruh perhatian besar pada sektor edukasi prasejarah. Ia rutin membedah sejarah Pasai melalui pelbagai forum dan seminar, termasuk saat ia membedah riwayat perjalanan penjelajah asal Maroko, Ibnu Baththutah, di tanah Sumatra.

Ia juga turun langsung mendedikasikan ilmunya ke berbagai dayah, seperti Dayah Ar-Raudhah, demi menanamkan kesadaran sejarah sejak dini kepada para santri.

Melalui paduan riset lapangan yang ketat, advokasi pelestarian yang lantang, dan dedikasi pada dunia pendidikan, Sukarna Putra telah membuktikan bahwa merawat warisan peradaban selalu menuntut aksi nyata di garis depan. []

Editor : Abe
Exit mobile version