ALIANSI.id — Musyawarah Besar (Mubes) X Ikatan Mahasiswa Tanjungbalai-Aceh (IMATAB-Aceh) yang diselenggarakan di Kota Tanjungbalai resmi menetapkan Gilang Al-Fauzan Dalimunthe sebagai Ketua Umum untuk periode 2026–2027. Mahasiswa aktif Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh (Unimal) tersebut terpilih melalui proses musyawarah yang dinamis dan kental dengan semangat kekeluargaan.
Mubes X ini bukan sekadar ajang pergantian kepemimpinan, melainkan menjadi momentum krusial bagi konsolidasi organisasi serta refleksi atas perjalanan IMATAB-Aceh dalam menaungi mahasiswa asal Tanjungbalai yang tengah menempuh pendidikan di Bumi Serambi Mekkah.
Dalam sambutan perdananya, Gilang menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan oleh seluruh kader. Ia menegaskan bahwa jabatan tersebut merupakan tanggung jawab besar yang mencakup aspek moral, intelektual, dan organisatoris.
“Kepercayaan ini adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Saya berterima kasih kepada seluruh rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan dukungan untuk bersama-sama memajukan IMATAB-Aceh,” ujar Gilang kepada Aliansi ID, Rabu (18/2).
Gilang memaparkan visi besar untuk membawa IMATAB-Aceh menjadi organisasi yang lebih progresif, adaptif, dan berdaya saing. Ia menekankan bahwa transformasi organisasi akan bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu Kaderisasi Sistematis, Penguatan Intelektualitas, dan Konsolidasi Internal.
Lebih lanjut, Gilang menginginkan IMATAB-Aceh bertransformasi menjadi laboratorium kepemimpinan dan wadah advokasi sosial, bukan sekadar ruang silaturahmi seremonial.
“Kita ingin membangun organisasi yang produktif secara gagasan dan nyata dalam aksi. IMATAB-Aceh harus melahirkan kader yang visioner, kritis, dan memiliki integritas tinggi,” tegasnya.
Menghadapi tantangan zaman, Gilang juga menyoroti pentingnya digitalisasi organisasi serta transparansi dalam tata kelola. Ia berencana menyusun program kerja yang terukur dan berkelanjutan dengan memperkuat sinergi bersama para stakeholder (pemangku kepentingan).
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen organisasi untuk meleburkan perbedaan pilihan pasca-Mubes demi kepentingan kolektif. Ia berharap IMATAB-Aceh periode 2026–2027 dapat menjadi “rumah perjuangan” yang memberikan kontribusi nyata bagi daerah asal maupun lingkungan akademik. []
