Oleh: Asifana Waldita*
Musibah kebakaran hebat yang menghanguskan 77 rumah warga di Gampong Jawa Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Aceh, tidak hanya meninggalkan kerugian material, tetapi juga memperlihatkan tantangan pemerintah daerah dalam menjamin perlindungan sosial bagi masyarakat terdampak bencana.
Hingga beberapa hari pascakejadian, ratusan warga masih bertahan di lokasi pengungsian darurat dan rumah kerabat. Sebagian korban mengaku masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar serta belum mendapatkan kepastian terkait dengan tempat tinggal sementara maupun proses pembangunan kembali rumah yang terbakar.
Kebakaran yang terjadi pada Selasa (5/5/2026) sekitar pukul 12.30 WIB itu menyebabkan sedikitnya 81 kepala keluarga atau sekitar 251 jiwa kehilangan tempat tinggal. Api diduga berasal dari korsleting listrik dan dengan cepat menyebar karena padatnya permukiman warga serta dominasi bangunan berbahan kayu.
Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, dan relawan berjibaku memadamkan api selama berjam-jam. Namun, kondisi akses jalan yang sempit menjadi hambatan utama bagi armada pemadam untuk menjangkau titik kebakaran dengan cepat.
Bantuan Pemerintah dan Tantangan Pemulihan
Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui Dinas Sosial telah menyalurkan bantuan masa panik berupa bahan makanan, pakaian, selimut, serta kebutuhan darurat lainnya. Sejumlah organisasi kemanusiaan dan relawan juga turut membantu korban di lokasi pengungsian.
Meski demikian, musibah ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan sistem mitigasi bencana di kawasan permukiman padat penduduk di Kota Lhokseumawe. Penanganan pascabencana dinilai tidak cukup sebatas bantuan darurat, tetapi juga membutuhkan langkah pemulihan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi korban terdampak.
Dalam perspektif tata kelola pemerintahan, bencana seperti ini menunjukkan pentingnya kehadiran negara tidak hanya pada saat keadaan darurat, tetapi juga dalam memastikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat kecil yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.
Solidaritas Sosial di Tengah Musibah
Di tengah keterbatasan yang dihadapi korban, solidaritas masyarakat terlihat kuat. Warga sekitar, relawan, hingga komunitas lokal beramai-ramai menyalurkan bantuan dan membantu proses distribusi logistik bagi para pengungsi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa mitigasi kebakaran di kawasan padat penduduk perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mulai dari pembenahan instalasi listrik, penataan permukiman, hingga penyediaan akses darurat yang memadai untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang. []
*Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Malikussaleh (Unimal)
