ALIANSI.id — Jejak peradaban Islam Sumatra Pasai kembali menarik perhatian dunia akademik internasional. Sebanyak 38 peserta dari Georgetown University’s School of Foreign Service Asia Pacific (GSAP) Jakarta dijadwalkan melakukan kunjungan akademik ke Museum Islam Samudra Pasai, Aceh Utara, pada Jumat, 25 September 2026.
Kunjungan yang dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 14.00 WIB tersebut difasilitasi oleh International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Rombongan diperkirakan berjumlah 45 orang, yang terdiri atas 38 peserta GSAP Jakarta dan tujuh orang dari ICAIOS.
Agenda ini didasarkan pada surat permohonan kunjungan Nomor 079/ICAIOS-Adm/IX/2026, tertanggal 15 September 2026, yang ditujukan kepada Kepala Bidang Kebudayaan sekaligus Kepala Museum Islam Samudra Pasai, Muhibuddin, S.Pd.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan direncanakan mendapat pendampingan dari peneliti Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) untuk memberikan informasi serta perspektif mengenai sejarah dan warisan peradaban Sumatra Pasai.
Sebagai informasi, ICAIOS merupakan lembaga kajian yang berfokus pada berbagai persoalan Aceh dan kawasan Samudra Hindia, termasuk aspek sosial, budaya, politik, pembangunan, serta sejarah dan peradaban.
Sumatra Pasai dalam Sorotan Akademik Internasional
Kunjungan Georgetown University ke Museum Islam Samudra Pasai bukan sekadar agenda wisata sejarah. Kehadiran kalangan akademik internasional tersebut menjadi momentum penting untuk melihat kembali posisi Daulah Shalihiyyah Sumatra atau Samudra Pasai dalam sejarah Islam dan jaringan peradaban dunia.
Sumatra Pasai dikenal memiliki posisi penting dalam perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara, sekaligus menjadi bagian dari jaringan perdagangan, intelektual, dan hubungan antarkawasan yang menghubungkan Asia Tenggara dengan dunia Islam dan Samudra Hindia.
Oleh karena itu, kunjungan akademik tersebut dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus kesempatan memperkenalkan warisan Samudra Pasai secara lebih luas kepada generasi akademisi internasional.
Bagi Museum Islam Samudra Pasai, perhatian ini menjadi momentum untuk memperkuat kembali fungsi museum sebagai pusat edukasi, penelitian, dokumentasi, dan penyebaran informasi sejarah, bukan semata-mata tempat menyimpan benda purbakala.
Terlebih lagi, dalam beberapa waktu terakhir, sejarah Aceh Utara dan keterkaitannya dengan keberadaan Kesultanan Sumatra Pasai kembali menjadi perhatian publik. Dalam konteks tersebut, kedatangan akademisi internasional menjadi pengingat bahwa sejarah Sumatra Pasai memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar kepentingan seremonial maupun administratif.
Perhatian akademik dari luar negeri ini sekaligus menunjukkan bahwa warisan Sumatra Pasai masih memiliki ruang yang luas untuk dikaji secara ilmiah, terutama yang berkaitan dengan perkembangan Islam, perdagangan, jaringan ulama dan intelektual, serta hubungan Aceh dengan dunia internasional pada masa lalu.
Pihak ICAIOS dalam surat permohonan tersebut menyatakan terbuka untuk menyesuaikan waktu pelaksanaan kunjungan dengan ketersediaan dan rekomendasi dari pihak pengelola Museum Islam Samudra Pasai. Direktur Eksekutif ICAIOS, Reza Idria, Ph.D., berharap pihak pengelola museum dapat menerima dan memfasilitasi kunjungan tersebut, terutama dalam penyediaan informasi pendukung untuk agenda akademik rombongan.
CISAH: Sejarah Harus Menjadi Landasan Pembangunan
Ketua CISAH, Abel Pasai, menyambut baik rencana kunjungan akademik tersebut. Menurutnya, keterlibatan kalangan akademisi internasional dalam mengkaji warisan Sumatra Pasai harus dilihat sebagai momentum untuk membuka wawasan masyarakat dan pemangku kebijakan di Aceh.
“Ini menjadi kesempatan penting untuk membuka wawasan masyarakat dan pemangku kebijakan di Aceh bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Nilai kesejarahan harus menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan pendidikan dan kebudayaan,” ujar Abel.
Ia menilai sejarah Sumatra Pasai semestinya ditempatkan sebagai salah satu fondasi pembangunan Aceh yang berkelanjutan, bukan hanya dihadirkan ketika berlangsung peringatan sejarah atau agenda seremonial. Menurutnya, perhatian akademisi internasional terhadap Sumatra Pasai juga harus menjadi bahan evaluasi sekaligus motivasi bagi pemerintah dan masyarakat Aceh untuk lebih serius menjaga, meneliti, mendokumentasikan, serta mengembangkan warisan sejarah tersebut.
“Kesultanan Sumatra Pasai sudah sejak lama dikenal oleh para peneliti dari berbagai belahan dunia. Sudah saatnya kita sendiri membuka mata dan menempatkan nilai sejarah besar ini pada tempatnya,” tegasnya.
Bagi CISAH, kunjungan Georgetown University bukan hanya tentang kedatangan puluhan peserta akademik ke sebuah museum. Lebih jauh, momentum itu merupakan kesempatan untuk menunjukkan bahwa Sumatra Pasai bukan sekadar nama yang tercatat dalam buku sejarah, melainkan warisan peradaban Islam yang memiliki nilai akademik, kebudayaan, dan strategis bagi masa depan Aceh.
Perhatian dunia akademik internasional itu, kata Abel, semestinya menjadi dorongan bagi Aceh untuk tidak hanya bangga terhadap sejarahnya, tetapi juga serius merawat, meneliti, dan menjadikan warisan Sumatra Pasai sebagai pijakan pembangunan peradaban di masa depan. []
