ALIANSI.id — Kelompok 10 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) XXXVIII Universitas Malikussaleh (Unimal) menggelar sosialisasi edukatif bertajuk “Jadi Keren Tanpa Nyakitin: Bangun Empati, Hentikan Intimidasi”. Kegiatan yang menyasar siswa-siswi SMP Negeri 2 Muara Batu ini dilaksanakan pada Rabu (11/2/2026) dengan tujuan utama menekan angka perundungan di lingkungan sekolah.
Acara yang diikuti oleh sekitar 60 siswa ini dikemas secara menarik, diawali dengan senam bersama untuk menciptakan suasana akrab antara mahasiswa dan para siswa. Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai dampak buruk bullying (perundungan) serta pentingnya menciptakan iklim sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif.
Dalam pemaparannya, para mahasiswa menjelaskan bahwa bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang untuk menyakiti pihak lain, baik secara fisik, verbal, maupun sosial. Mahasiswa menekankan bahwa tindakan intimidasi bukan merupakan cerminan perilaku yang “keren”, melainkan tindakan yang merugikan masa depan sesama siswa.
Dampak serius dari perundungan turut dipaparkan, di antaranya menyebabkan menurunnya rasa percaya diri korban, gangguan kesehatan mental yang berkepanjangan, serta terganggunya konsentrasi dan proses belajar siswa di sekolah.
Wakil Kepala SMPN 2 Muara Batu, Meutia, menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif mahasiswa KKN Unimal. Menurutnya, pesan mengenai empati sangat relevan untuk ditanamkan sejak dini kepada para siswa.
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih atas kontribusi mahasiswa di SMPN 2 Muara Batu. Sosialisasi ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa empati dan saling menghargai. Terima kasih telah memberi contoh positif bagi seluruh siswa,” ujar Meutia.
Koordinator kegiatan, Fadli Ichwanul Arfi, mengungkapkan harapannya agar kampanye “Jadi Keren Tanpa Nyakitin” ini tidak berhenti saat sosialisasi usai, melainkan menjadi awal perubahan budaya di sekolah.
“Mari bersama kita bangun budaya saling menghormati, karena setiap anak berhak merasa aman dan bahagia di sekolah. Kami berharap siswa semakin memahami pentingnya empati serta berani melaporkan tindakan perundungan,” tegas Fadli.
Kegiatan yang berlangsung interaktif melalui sesi ice breaking dan diskusi bersama ini ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen kolektif antara mahasiswa dan pihak sekolah dalam memerangi perundungan. []






