ALIANSI.id — Para juri Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SD dan SMP se-Aceh Utara merasa kecewa. Pihak panitia belum membayar honorarium mereka, padahal pelaksanaan kompetisi tersebut sudah berlalu lebih dari sebulan, pada awal hingga pertengahan bulan Mei 2026.
Ironisnya, dinas terkait telah mengumumkan para pemenang lomba. Bahkan, perwakilan siswa sudah melanjutkan kompetisi ke tingkat nasional.
Meskipun demikian, para juri yang menentukan kemenangan siswa belum menerima imbalan atas kerja keras mereka. Dinas Pendidikan Aceh Utara pun belum memberikan kepastian mengenai hak para juri tersebut.
Salah satu juri, Zulfadli Kawom, menyatakan kekecewaannya secara terbuka kepada media. Ia mengaku telah berulang kali mempertanyakan kejelasan honorarium kepada staf Dinas Pendidikan Aceh Utara.
“Kami telah melaksanakan tugas kami dengan penuh tanggung jawab dan melaporkan hasilnya sebulan yang lalu. Namun, hingga kini, hak kami sebagai juri belum juga diberikan. Kami berharap pihak Dinas Pendidikan Aceh Utara segera memberikan penjelasan dan menyelesaikan masalah ini,” ujar Kawom dalam rilis yang diterima media ini, Senin (15/6/2026).
Selain itu, ia juga merasa pihak dinas tidak konsisten dalam memberikan informasi pencairan dana. “… Saya merasa seperti dipermainkan dengan kata singa, rusa (esok, lusa, sebelum meugang, dan setelah hari raya),” tambahnya.
Kawom kemudian membandingkan pengalamannya saat menjadi juri di kabupaten lain di Provinsi Aceh. Menurutnya, panitia di daerah lain langsung membayar honor juri segera setelah acara selesai.
“Pengalaman saya jadi juri di kabupaten lain di Aceh, acara usai langsung dibayar. Namun, yang aneh, saya justru malang (sial) di kabupaten sendiri,” keluh Kawom.
Lebih lanjut, ia menilai tata kelola birokrasi yang buruk ini dapat memicu perpindahan seniman lokal ke luar daerah.
“Niat saya pulang kampung ingin memajukan kebudayaan dan kesenian bagi generasi muda, tetapi malah membuat saya kecewa kalau begitu sambutannya. Wajar saja banyak budayawan dan seniman Aceh Utara berkarier di luar jika begitu peukateun (perilaku) budaya pemerintah Aceh Utara,” pungkasnya. []






