Mantan Perambah Mangrove di Langkat Sukses Sulap Dapur Arang Jadi Ekowisata

Avatar
Perwakilan PT Pertamina EP Pangkalan Susu bersama masyarakat dan pelajar menanam bibit mangrove di Desa Pasar Rawa, Langkat, Sumatera Utara. Kegiatan bagian dari Program PALUH ASRI ini bertujuan untuk memulihkan ekosistem pesisir sekaligus mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan.
Perwakilan PT Pertamina EP Pangkalan Susu bersama masyarakat dan pelajar menanam bibit mangrove di Desa Pasar Rawa, Langkat, Sumatera Utara. Kegiatan bagian dari Program PALUH ASRI ini bertujuan untuk memulihkan ekosistem pesisir sekaligus mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. đź“·: Dok. Pertamina EP

ALIANSI.id — Sebanyak 23 mantan perambah hutan mangrove di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sukses mengubah kawasan dapur arang menjadi destinasi edukasi ekowisata (edu ekowisata) yang kaya keanekaragaman hayati.

Transformasi lingkungan ini terwujud melalui Program PALUH ASRI (Paluh Berdaya, Asri, dan Lestari) Eco Edukasi Pasar Rawa yang PT Pertamina EP (PEP) Pangkalan Susu inisiasi sejak tahun 2023. Lewat pendekatan persuasif, program ini berhasil mengubah perilaku pelaku pembalakan liar menjadi garda terdepan pelestari lingkungan pesisir.

Kini, puluhan alumni pembalak tersebut telah beralih profesi demi menyambung hidup. Sebanyak 10 orang aktif mengelola Bank Sampah Pasarawa, sementara 13 orang lainnya bergabung dalam kelompok konservasi yang mengelola jalur penjelajahan (tracking) mangrove ramah wisatawan.

“Kami dulu membuka dapur arang dengan membabat kayu mangrove. Tapi semakin lama ikan semakin susah didapat. Sekarang setelah mangrove dijaga, hasil tangkapan mulai meningkat lagi,” ujar Yudi, salah satu warga yang kini menjadi penjaga mangrove Pasar Rawa, Kamis (21/5).

Baca juga :  Kapolda Aceh dan Pangdam IM Vidcon dengan Kapolri: Situasi Jelang Idulfitri Aman dan Kondusif

Kehadiran program kolaboratif ini sekaligus menyelesaikan krisis lingkungan masa lalu. Sebelum tahun 2023, warga lokal menebang pohon mangrove setiap hari secara turun-temurun untuk memproduksi arang. Akibatnya, abrasi mengikis daratan, air laut menggenangi pemukiman, populasi satwa menyusut, dan hasil tangkapan nelayan tradisional terus menurun.

Manager Community Involvement & Development Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa kesuksesan menjaga lingkungan lahir dari kesadaran masyarakat yang hidup berdampingan langsung dengan ekosistem tersebut.

“Kami percaya, keberhasilan menjaga lingkungan tumbuh dari kesadaran dan keterlibatan masyarakat yang hidup berdampingan dengan ekosistem tersebut. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya fokus pada penanaman mangrove, tetapi juga membangun perubahan perilaku dan menciptakan sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir,” kata Iwan pada Kamis (21/5).

Baca juga :  Apresiasi Dukungan Cabang Dinas Pendidikan, PD PII Lhokseumawe Siap Cetak Kader Progresif

Hingga tahun 2025, gerakan gotong royong ini telah menanam 8.500 pohon di atas lahan seluas 300 hektare. Upaya pemulihan tersebut kini membuahkan hasil nyata. Wisatawan, anak sekolah, hingga mahasiswa mulai memadati kawasan pesisir ini untuk mempelajari ekosistem pesisir.

Data Monitoring Keanekaragaman Hayati Tahun 2025 dari Universitas Sumatra Utara (USU) turut memperkuat bukti pulihnya ekosistem ini. Peneliti menemukan sedikitnya 10 jenis mangrove tingkat pohon tumbuh subur di Pasar Rawa, yang didominasi oleh bakau merah (Rhizophora apiculata). Vegetasi lain seperti berembang laut, api-api, mata buaya, cingam, nirih, buta-buta, hingga nipah juga menunjukkan regenerasi alami yang sangat baik.

Baca juga :  Putus Rantai Kemiskinan, Islamic Relief dan Baitul Mal Lhokseumawe Luncurkan Program Senilai Rp4,7 Miliar

Kembalinya hutan pesisir ini juga memicu migrasi balik satwa liar. Tercatat ada 48 spesies fauna yang menjadikan kawasan ini sebagai habitat, mulai dari mamalia seperti monyet ekor panjang, berang-berang cakar kecil, kalong, hingga reptil seperti biawak dan ular tambak.

Menariknya, sejumlah satwa langka dengan status konservasi penting kini kembali menempati kawasan mangrove Pasar Rawa. Beberapa di antaranya adalah Bangau Tongtong yang berstatus Terancam Punah (Endangered), Bluwok dengan status Rentan (Vulnerable), Elang Bondol yang berstatus satwa dilindungi, serta Lutung Kelabu yang juga berstatus rentan dan dilindungi.

Tepat pada peringatan Hari Keanekaragaman Hayati yang jatuh pada hari ini, Jumat (22/5), Program PALUH ASRI berhasil membuktikan bahwa pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. []

Editor : Redaksi
Sumber : Ril