Museum Tsunami Aceh Siap Perbarui Konten Edukasi Usai Diskusi dengan Kang Emil

Avatar
Arsitek Ridwan Kamil menjelaskan filosofi desain Museum Tsunami Aceh kepada rombongan arsitek internasional dalam rangkaian konferensi UIA dan IAI di Banda Aceh
Arsitek Ridwan Kamil menjelaskan filosofi desain Museum Tsunami Aceh kepada rombongan arsitek internasional dalam rangkaian konferensi UIA dan IAI di Banda Aceh, Sabtu (18/4/2026). đź“·: Dok. Museum Tsunami

ALIANSI.id — Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh berkomitmen memperbarui konten edukasi pascapertemuan dengan arsitek Ridwan Kamil, Sabtu (18/4/2026). Upaya ini bertujuan menjaga relevansi museum sebagai pusat literasi bencana internasional.

Pertemuan tersebut berlangsung saat kunjungan kerja Ridwan Kamil dalam rangkaian konferensi internasional kebencanaan Union Internationale des Architectes (UIA) dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Diskusi berfokus pada peran arsitektur dalam penanganan pascabencana melalui desain bangunan yang efektif.

Sebagai perancang gedung, Ridwan Kamil menjelaskan filosofi bangunan yang ia buat pada tahun 2007 tersebut. Ia mengaku Museum Tsunami Aceh merupakan karya paling emosional karena latar belakang tragedi kemanusiaan yang besar.

Baca juga :  DPM UNIMAL Desak DPRA Segera Perjuangkan Pengembalian Empat Pulau Aceh

“Saya bahagia bangunan ini bisa berdiri dan memberikan manfaat, tidak hanya untuk mengingat, tetapi juga mengedukasi agar masyarakat Aceh memiliki ilmu dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan,” ujar Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil.

Selaras dengan hal itu, Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M. Syahputra Azwar, menyambut baik masukan sang arsitek. Ia segera merencanakan pemeliharaan profesional dan pembaruan konten secara berkala.

Baca juga :  Museum Tsunami Gelar Sosialisasi Kebencanaan dengan Memanfaatkan TI

Syahputra menegaskan bahwa kehadiran Ridwan Kamil memberikan energi baru bagi pihak pengelola museum. Ia menilai pentingnya pembaruan konten untuk memastikan fasilitas ini tetap menjadi sarana edukasi yang relevan.

“Kehadiran Kang Emil memberikan energi baru bagi kami. Masukan beliau mengenai pentingnya pembaruan konten selaras dengan upaya kami memastikan museum tetap menjadi sarana edukasi yang relevan,” kata Syahputra.

Baca juga :  Islamic Relief Gelar Deklarasi Road to Orphan Justice, Ini Tujuannya

Selanjutnya, pihak museum memproyeksikan gedung ini sebagai pusat ilmu pengetahuan bagi generasi muda. Catatan sejarah menunjukkan Aceh telah mengalami lebih dari sepuluh kali peristiwa tsunami sejak zaman kolonial.

Oleh karena itu, kunjungan ini mempertegas komitmen semua pihak dalam mengawal warisan arsitektur dan kemanusiaan. Pengelola berharap masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan bencana melalui edukasi yang tersedia di museum tersebut. []

Editor : Redaksi
Sumber : Ril