Esai  

Sejarah Tari Saman: Zikir dari Dataran Tinggi Gayo

Avatar
Ilustrasi Tari Saman
Ilustrasi Tari Saman. đź“·: Gambar ini dibuat menggunakan AI

Oleh: Wiwi Sulistiani*

Bayangkan puluhan pemuda berderet rapat dengan punggung tegak. Telapak tangan mereka memukul udara, dada, dan paha dengan ritme yang begitu rapat, nyaris melampaui kecepatan mata untuk menangkap gerakannya. Tanpa iringan instrumen musik apa pun, yang tersisa hanyalah harmoni dari tepukan tangan, hentakan tubuh, dan lantunan syair yang meliuk-liuk. Itulah Tari Saman, sebuah entitas seni dari Dataran Tinggi Gayo, Aceh, yang kini telah bermetamorfosis menjadi ikon budaya Indonesia di mata dunia.

Namun, di balik gemuruh tepuk tangan penonton internasional, terdapat satu ironi yang mengganjal: masih banyak orang, termasuk kita sendiri, yang abai terhadap akar dan hakikat tarian ini. Sering kali, setiap tarian Aceh yang dipentaskan dalam posisi duduk serta-merta dicap sebagai “Saman”. Pemahaman yang seragam namun keliru ini justru mengaburkan identitas kesenian itu sendiri. Tulisan ini bermaksud membedah benang kusut kesalahpahaman tersebut sekaligus meresapi kembali makna spiritual yang tertanam dalam gerak-gerik magis Saman.

Baca juga :  Mengungkap Gelar dan Fungsinya di Kerajaan Islam Samudra Pasai

Tari Saman adalah “anak kandung” masyarakat Gayo, tepatnya di Kabupaten Gayo Lues. Sebelum membumi di wilayah Gayo lainnya seperti Aceh Timur dan Aceh Tamiang, Saman berakar dari tradisi lisan dan permainan rakyat bernama Pok Ane atau Tepuk Abe. Permainan yang mengisi waktu luang pemuda Gayo ini kemudian disublimasikan oleh Syekh Saman pada abad ke-14 menjadi sebuah media dakwah yang sublim melalui syair-syair pujian kepada Sang Pencipta.

Perdebatan mengenai etimologi “Saman” hingga kini masih menjadi diskursus menarik. Ada yang meyakini nama tersebut merujuk pada sang penciptanya, Syekh Saman. Versi lain berpendapat bahwa kata tersebut diserap dari bahasa Arab yang berarti “delapan”, yang merujuk pada jumlah penari. Selain itu, ada pula spekulasi yang mengaitkannya dengan pengaruh Tarekat Samaniyah dari Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani.

Terlepas dari perdebatan etimologi tersebut, posisi duduk bersimpuh para penari bukanlah sekadar pengaturan panggung, melainkan simbolisasi dari posisi salat—sebuah manifestasi penghambaan yang divisualisasikan. Bagi pengamat budaya, Saman adalah pengejawantahan zikir dalam gerak. Syair-syairnya yang memuat kalimat tauhid menegaskan bahwa setiap gerakan, seperti guncang, kirep, lingang, dan surang-saring, bukanlah sekadar estetika, melainkan simbol keselarasan antara manusia, semesta, dan Tuhan. Kendati bukti tertulis masih menjadi misteri, satu hal yang pasti: Saman adalah perpaduan organik antara spiritualitas Islam dan kearifan lokal Gayo.

Baca juga :  Mengungkap Gelar dan Fungsinya di Kerajaan Islam Samudra Pasai

Transformasi Saman dari ritual sakral di meunasah pada momen Maulid Nabi menjadi pertunjukan populer dimulai sekitar tahun 1972 dalam Pekan Kebudayaan Aceh (Tempo, 2024). Puncaknya, pada 24 November 2011, UNESCO menobatkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak (UNESCO, 2011).

Persoalan muncul ketika masyarakat gagal membedakan Saman dengan Ratoh Jaroe. Tari kreasi baru yang digubah oleh Yusri Saleh (Dek Gam) sekitar tahun 2008 ini memang mengambil elemen gerak Saman, namun ia adalah entitas yang berbeda. Ratoh Jaroe memadukan unsur Likok Pulo, Rapai Geleng, dan Ratoh Duek; dibawakan oleh perempuan dalam jumlah genap, serta menggunakan alat musik rapai. Menyamakan keduanya adalah kekeliruan fatal yang sempat mencuat saat pembukaan Asian Games 2018, di mana media internasional keliru melabeli pertunjukan Ratoh Jaroe sebagai “Tari Saman” (Ramadhania dkk., 2023).

Baca juga :  Mengungkap Gelar dan Fungsinya di Kerajaan Islam Samudra Pasai

Saman telah melampaui fungsinya sebagai alat dakwah tradisional; ia telah menjadi milik publik. Namun, popularitas bukanlah alasan untuk menanggalkan detail sejarah. Upaya membedah perbedaan antara Saman, Ratoh Jaroe, dan Seudati bukanlah sekadar berdebat mengenai terminologi. Ini adalah ikhtiar untuk menghormati konteks sejarah dan komunitas yang melahirkannya. Memahami Saman secara utuh sebagai warisan yang mengandung nilai kebersamaan dan tauhid adalah bentuk apresiasi tertinggi kita, generasi masa kini, kepada leluhur Gayo yang telah menitipkan kekayaan budaya yang begitu luhur. []

*Penulis merupakan mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.

Editor : Redaksi