Oleh: Efrida Hannum Hasibuan*
Nilai tukar rupiah kembali melemah secara signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Mei 2026. Berdasarkan data pasar yang dirilis pada Senin (12/5/2026), rupiah ditutup pada level Rp17.750 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan sejak April 2026.
Pelemahan ini dipengaruhi oleh kombinasi tekanan ekonomi global, penguatan dolar AS, dan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter dunia.
Penguatan indeks dolar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Data menunjukkan indeks dolar bergerak naik ke level 1,10 pada pertengahan Mei 2026, didorong oleh ekspektasi suku bunga The Fed yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik global.
“Tekanan eksternal masih dominan. Penguatan dolar yang berkelanjutan membuat arus modal keluar dari aset berisiko di pasar negara berkembang,” ujar seorang analis pasar uang kepada tim Ekonomi Nasional, Senin (12/5/2026).
Grafik pergerakan pasar global menunjukkan penurunan indeks saham utama dan sentimen risk-off yang menguat. Bursa regional Asia juga terpantau bergerak negatif seiring dengan langkah investor yang memilih aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan rupiah dan menyiapkan langkah stabilisasi untuk menjaga volatilitas tetap terkendali. Namun, ruang gerak kebijakan dinilai terbatas karena tekanan eksternal yang kuat.
Dampak terhadap Ekonomi Domestik
Pelemahan rupiah ke level Rp17.750 berpotensi meningkatkan beban impor dan inflasi, terutama untuk barang-barang yang masih bergantung pada dolar AS. Sektor usaha yang memiliki utang valuta asing (valas) juga diprediksi menghadapi tantangan tambahan.
Harga barang elektronik, bahan baku industri, dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diperkirakan akan menyesuaikan atau naik dalam beberapa minggu ke depan. Hal ini dapat menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang baru mulai pulih pasca-2025.
Respons Pemerintah dan BI
Kementerian Keuangan menyatakan akan memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Sementara itu, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga inflasi tetap berada dalam target 2,5% ±1% melalui operasi pasar terbuka dan stabilisasi nilai tukar.
BI juga mengimbau pelaku usaha untuk mengelola risiko valuta asing dengan lebih hati-hati di tengah volatilitas pasar global.
Proyeksi ke Depan
Ekonom memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif sepanjang kuartal II/2026, bergantung pada perkembangan data inflasi AS dan arah kebijakan The Fed ke depan. Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, tekanan terhadap rupiah diprediksi belum akan mereda.
Namun, jika harga komoditas ekspor Indonesia seperti batu bara dan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali menguat, terdapat peluang bagi rupiah untuk mendapatkan dukungan dari sisi neraca perdagangan.
*Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Malikussaleh (Unimal)






