Produktivitas Kakao Naik 5 Kali Lipat, Program Inong Balee Jadi Solusi Pengentasan Kemiskinan

Avatar
Nurhasanah, petani kakao di Desa Blang Pante, Aceh Utara, saat mengikuti pelatihan perawatan tanaman. Ia merupakan bagian dari kelompok perempuan kepala keluarga binaan PHE NSO
Nurhasanah, petani kakao di Desa Blang Pante, Aceh Utara, saat mengikuti pelatihan perawatan tanaman. Ia merupakan bagian dari kelompok perempuan kepala keluarga binaan PHE NSO yang berhasil merestorasi empat hektar lahan kritis. 📷: Dok. PHE NSO

ALIANSI.id — Program pemberdayaan perempuan kepala keluarga sanggup mendongkrak produktivitas kakao hingga lima kali lipat di Aceh Utara. Upaya ini terbukti efektif menjadi solusi nyata dalam pengentasan kemiskinan di wilayah tersebut.

Pertamina Hulu Energi North Sumatera Offshore (PHE NSO) menginisiasi program bertajuk Inong Balee ini. Inisiatif tersebut menyasar para perempuan yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga karena berbagai tuntutan keadaan.

Saat ini, Program Inong Balee berhasil merestorasi empat hektar lahan kritis perkebunan kakao. Peserta program menanam 600 bibit baru dan meremajakan lebih dari 1.700 pohon kakao yang sudah tua.

Metode sekolah lapang memberikan dampak signifikan terhadap kapasitas produksi para petani perempuan. Produktivitas per pohon melonjak drastis dari satu kilogram menjadi tiga sampai lima kilogram kakao.

Baca juga :  UIA Terjunkan 160 Mahasiswa KPM untuk Dampingi Warga Terdampak Banjir di Aceh Utara dan Bireuen

Salah satu peserta, Nurhasanah, menceritakan pengalamannya sebelum mengikuti pelatihan teknis budidaya. “Beberapa tahun lalu, kami belum tahu cara menanam yang benar. Hasil panen tidak menentu dan hasil panen tidak berkualitas baik,” ujarnya.

Peningkatan hasil panen ini secara otomatis menaikkan pendapatan para petani secara eksponensial. Jika dulu satu pohon menghasilkan Rp 13.000, kini nilai ekonomi per pohon meningkat berkali lipat.

Perjuangan Melawan Kemiskinan

Nurhasanah sebelumnya harus bekerja kasar sebagai buruh tani dan pemanggul batu sungai demi bertahan hidup. Ia memutar otak untuk menyekolahkan anaknya setelah sang suami tewas dalam kontak senjata.

Baca juga :  Murhaban, Peraih Penyuluh Agama Award 2023 Terima Penghargaan DPR RI, MPU Aceh dan Pemuda Pancasila

Ia mengakui bahwa ilmu tentang teknik pertanian yang tepat menjadi kunci perubahan ekonomi keluarganya. “Saya sangat bersyukur adanya program pemberdayaan dari PHE NSO. Kami diajarkan berbagai cara untuk meningkatkan hasil panen. Seperti, praktik pertanian kakao yang baik,” katanya.

Di tempat lain, kemandirian ekonomi juga muncul dari Desa Pasar Rawa, Kabupaten Langkat, melalui inovasi pangan. Kelompok UMKM Kuliner Maju Bersama sukses mengubah ikan baronang menjadi camilan bergizi yang bernilai jual tinggi.

Dukungan Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 membekali para ibu rumah tangga dengan keterampilan mengolah ikan. “Program ini membantu kami, ibu rumah tangga berpenghasilan dan punya keterampilan baru,” tutur Sabariah, anggota kelompok tersebut.

Baca juga :  BADKO HMI Aceh Kirimkan Surat Terbuka kepada Presiden RI, Ini Poinnya

Produk olahan tersebut kini menghasilkan omzet hingga Rp 6 juta per bulan bagi kelompok mereka. Selain aspek ekonomi, produk ini turut berkontribusi menurunkan risiko stunting melalui pemberian makanan tambahan balita.

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan komitmen perusahaan. Program pemberdayaan ini mengacu pada pertimbangan sosial dan ekonomi yang mendalam untuk meningkatkan kemandirian warga.

Langkah ini selaras dengan program pemerintah dalam mempercepat pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. “Dengan peningkatan ekonomi, diharapkan dapat memberikan perubahan bagi lingkungan sekitarnya,” tutup Iwan. []

Editor : Emre
Sumber : Ril