Yuk! Kunjungi Anjungan Aceh Utara di PKA, Ada Pameran Jejak Rempah Samudra Pasai

Avatar
Pemandu di anjungan Aceh Utara sedang menjelaskan dokumen tentang peran Bandar Sumatra atau Samudra Pasai sebagai salah satu titik Jalur Rempah Nusantara. Foto: Aliansi.ID/Abel Pasai.

Banda Aceh | Aliansi.ID – Anjungan Kabupaten Aceh Utara di arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 memamerkan sejumlah dokumen tentang peran Bandar Sumatra atau Samudra Pasai sebagai sebuah pelabuhan terpadat di kawasan Asia Tenggara pada masanya.

Sumatra Pasai atau Samudra Pasai adalah dua toponimi yang digunakan untuk menyebutkan sebuah kerajaan Islam yang mendunia antara periode abad ke-13 sampai awal abad 16 masehi yang lokasinya berada di bagian utara Aceh hari ini.

“Aceh Utara tentu saja sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari kegemilangan sejarah Sumatra Pasai beberapa abad silam,” jelas Laras Mufasya didampingi Nanik Sudartik, pemandu di anjungan Aceh Utara, Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh.

Lanjutnya, salah satu jejak epic kesultanan yang didirikan oleh Sultan Al Malik Ash Shalih ini adalah tentang rekaman laporan penjelajah-penjelajah dunia mengenai eksistensi komoditas rempah dan pelabuhan-pelabuhannya yang besar kala itu, ditambah lagi jejak arkeologis mengenai hubungan yang sangat harmonis dengan negara pusat penghasil rempah terbesar di dunia, yaitu India.

Baca juga :  Kadis Sosial Aceh Utara Serahkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Samudera

Sementara itu, peneliti sejarah Islam dari LSM Cisah, Sukarna Putra memberikan dukungan penuh dalam menyajikan data-data autentik kesejarahan.

“Untuk bagian seuramoe keu atau serambi depan akan menampilkan jejak periodisasi masa kesultanan Sumatra Pasai, dimulai dengan tema tokoh sebelum masa kesultanan abad ke-7 hijriyah atau abad 13 masehi,” jelasnya.

“Kemudian diteruskan tokoh kesultanan periode 1 abad 7-8 hijriyah atau 13-14 masehi, lalu tokoh kesultanan periode 2 abad 9 hijriyah atau 15 masehi, tokoh kesultanan periode 3 abad 10 hijriyah atau 16 masehi,” sambung Sukarna, yang juga kurator Museum Islam Samudra Pasai itu.

Selain itu, di sana juga dipamerkan beragam artefak tinggalan sejarah Sumatra Pasai, yakni Numismatika berupa dirham (gold coin), keuh (lead coin), koin Sultan Muhammad Thughlaq, koin dari China, koin Sultan Muzaffar Syah Malaka.

Baca juga :  Agenda Perdana Pj Bupati Mahyuzar di Aceh Utara, Silaturahmi dengan Ulama Dayah

Lalu, ragam perhiasan masa Sumatra Pasai (Manik-manik, gantungan kalung emas, gelang dan cincin chettiar, dan lain-lain

Ada juga batu nisan, untuk menampilkan wujud tipologi batu nisan Pasai. Terakhir, ragam fragmen keramik dari beberapa negara-negara luar serta periode masanya, dan beberapa jenis artefak lain.

Jejak Jalur Rempah Nusantara

Sukarna mengatakan, pusat kesultanan Sumatra Pasai (Aceh Utara) adalah salah satu spot titik Jalur Rempah Nusantara yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Kemendikbud Ristek RI.

lanjutnya, laporan-laporan penjelajah dunia saat lawatannya ke Sumatra Pasai telah diterbitkan dalam beberapa karya mereka tentang komoditas rempah yang ada di sana,

“Seperti yang disampaikan seorang penjelajah dunia asal Maroko, Ibnu Bathuthah dalam laporan kunjungannya ke Sumatra Pasai diberi tajuk Tuhfah An Nazhar menjelaskan komoditas unggulan yang ada di sana pada pertengahan abad 14 masehi adalah kelapa, pinang, cengkeh, dan kemenyan India,” bebernya.

Baca juga :  Aceh Utara Umumkan Juara Lomba Gammawar Tahun 2023, Juara 1 Gampong Mane Tunong

Selanjutnya, Sulaiman Al Mahri, yang dijuluki Al Mu’allimu Bahr (sang navigator laut) menjelaskan dalam karyanya Al-Minhaj Al-Fakhir dalam lawatannya di awal abad ke-16 masehi, bahwa bandar Sumatra Pasai adalah sebuah bandar yang ramai dan besar, dan komoditas unggulan saat itu adalah sutra, lada, dan emas.

“Dan yang terakhir adalah surat Sultan Zainal Abidin IV kepada Kapitan Mor (Portugis) juga menyatakan hal serupa, bahwa rempah-rempah masih menjadi komoditas yang tidak bisa dipisahkan di Sumatra Pasai sampai akhirnya kesultanan itu,” paparnya.

PKA ke-8 mengusung tema “Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia” akan digelar selama sembilan hari, mulai 4-12 November 2023 dan diikuti 23 kabupaten/kota se-Aceh. Kegiatan itu juga dimeriahkan 4.829 seniman dan budayawan yang terlibat, 117 peserta pameran, 23 BUMDes, 23 SMK, 72 pengrajin dan pedagang produk tradisional Aceh, serta 1.109 tenaga kreatif.

Penulis : Abel Pasai
Editor : Amrizal Abe