Indeks

Warga Aceh Utara Surati Presiden Jokowi, Berikut Isinya

Terpiadi A. Majid, warga Pasai (Aceh Utara), menunjukkan surat yang ia tulis untuk Presiden Jokowi. Foto: Ist.

Lhoksukon | Aliansi.ID – Terpiadi A. Majid, warga Aceh Utara menulis surat yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo. Dalam surat tersebut, Terpiadi yang menyebut dirinya rekan petani menyampaikan kepada Presiden tentang nasib petani di Pasai atau Aceh Utara.

Terpiadi, yang dihubungi media ini pada Senin pagi (24/7/2023), membenarkan perihal surat tersebut. Ia menyebut persoalan Irigasi Krueng Pase yang berlokasi di Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara yang hancur. Akibatnya petani dari 9 kecamatan (8 kecamatan di Aceh Utara, 1 kecamatan di Lhokseumawe) tidak bisa mengairi sawah mereka.

Menurut Terpiadi, surat tersebut ia layangkan bertujuan untuk mengetuk hati pemerintah Republik Indonesia untuk segera menyelesaikan persoalan Irigasi Krueng Pase dan mencegah kelaparan masyarakat yang sudah didepan mata.

Berikut isi surat yang ditulis Terpiadi A. Majid

Kepada Yth.
Bapak Presiden Republik Indonesia
Ir. H. Joko Widodo
Di
Jakarta

Dengan hormat,

Semoga Bapak Presiden selalu amanah, adil serta mendapatkan ridha Allah Tuhan Yang Maha Esa dalam memimpin NKRI.

Dari Samudra Pasai sebuah negeri kecil yang pernah berdaulat di Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam yang pernah dikunjungi oleh Ibnu Batutah dan Marcopolo dalam pengembaraannya, izinkan kami menulis surat terbuka kepada Bapak Presiden melaporkan tentang sebuah irigasi yang telah hancur yaitu “IRIGASI KRUENG PASE”.

Irigasi Krueng Pase terletak di Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, berjarak +- 20 KM dari Kota Lhoksukon. Bendung ini dibangun oleh Belanda pada tahun 1931 ketika Indonesia belum merdeka, dengan memanfaatkan sumber air dari sungai Krueng Pase. Irigasi Krueng Pase ini melayani mencapai 8922 Ha. sawah, yang berdasarkan Peraturan Menteri PUPR No.14/PRT/M/2015 merupakan tanggungjawab dan wewenang pemerintah pusat ( <3000 Ha.). Areal yang diairi oleh irigasi ini meliputi 9 Kecamatan yang berada dalam wilayah 8 Kecamatan di Kabupaten Aceh Utara dan satu Kecamatan di Kota Lhokseumawe.

Akibat besaran debit air dan bencana alam banjir yang terjadi pada tanggal 24 April 2008, bendung irigasi Krueng Pase mengalami kerusakan berat dan patah, hal ini dikarenakan faktor umur konstruksi yang sudah cukup tua dan kurangnya perawatan pada saat itu, serta dampak dari bencana gempa bumi pada tanggal 26 Desember 2004 yang mempengaruhi kestabilan konstruksi sehingga mengakibatkan kerugian petani sawah yang tidak dapat menanam padi selama tiga (3) tahun lebih atau enam (6) kali musim tanam.

Dalam rangka mendukung swasembada dan kedaulatan pangan nasional, kami masyarakat Pasai, Kabupaten Aceh Utara mengharapkan Bapak Presiden Republik Indonesia menaruh perhatian khusus untuk pembangunan Irigasi Krueng Pase tersebut.

Hingga saat ini lanjutan pembangunan belum terlaksana dan pemerintah daerah Kabupaten Aceh Utara maupun pemerintah daerah, Provinsi Aceh belum mampu menanggulanginya.
Saat ini akibat gagal panen yang terus menerus karena ketiadaan air irigasi mengakibatkan masyarakat di 9 Kecamatan yaitu Kec. Meurah Mulia, Kec. Samudera, Kec. Tanah Pasir, Kec. Syamtalira Aron, Kec. Nibong, Kec. Tanah Luas, Kec. Matangkuli, Kec. Syamtalira Bayu di wilayah Aceh Utara dan Kec. Blang Mangat di wilayah Kota Lhokseumawe sudah mulai terancam kelaparan.

Untuk ini sangat dibutuhkan perhatian khusus Bapak Presiden, agar pembangunan bendung irigasi Krueng Pase menjadi prioritas agar dapat segera berfungsi kembali, sehingga meningkatnya intensitas tanam, meningkatnya produktivitas panen, meningkatnya pendapatan masyarakat petani, terciptanya pertumbuhan ekonomi dan tercapainya swasembada pangan daerah yang mendukung kedaulatan pangan nasional.

Demikian surat terbuka ini kami layangkan agar terketuk hati pemerintah Republik Indonesia untuk segera menyelesaikan persoalan irigasi Krueng Pase dan mencegah kelaparan masyarakat yang sudah didepan mata.

Hormat kami,

Terpiadi A. Majid
Warga Pasai, rekan petani

Aron, 17 Juli 2023

Editor : RedaksiSumber : Ril
Exit mobile version