Oleh: Muhammad Munir An-Nabawi, M.Psi.
Dosen Prodi BKI UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Pernahkah kita memperhatikan sebuah taman yang dipenuhi berbagai jenis bunga? Ada bunga merah, putih, kuning, ungu, dan warna lainnya. Bunga-bunga tersebut tumbuh di tanah yang sama, memperoleh air dan cahaya matahari yang sama, serta mendapat perawatan dari lingkungan yang sama. Ketika waktunya tiba untuk mekar, setiap bunga tetap menunjukkan warna dan bentuknya masing-masing.
Perbedaan warna justru memberi nilai pada taman. Kita tidak meminta mawar menjadi melati atau melati berubah menjadi bunga lain agar seluruh taman tampak seragam. Perbedaan diterima sebagai bagian dari keindahan. Dari sana muncul satu pertanyaan, apakah kehidupan akademik juga perlu memandang perbedaan dengan cara yang serupa?
Kampus merupakan ruang perjumpaan berbagai disiplin ilmu, pengalaman, karakter, dan perspektif. Dosen datang dari latar belakang pendidikan dan pengalaman akademik yang beragam. Mahasiswa membawa pengalaman hidup serta cara pandang yang berbeda. Sementara satu persoalan sering kali menyediakan lebih dari satu sudut untuk dikaji.
Dalam kondisi seperti ini, kesamaan pandangan tidak selalu menjadi ukuran kualitas kehidupan akademik. Kesepakatan memang diperlukan dalam aturan, tata kelola, dan tujuan bersama. Tetapi dalam proses berpikir ilmiah, perbedaan argumentasi sering menjadi bagian dari proses pencarian pengetahuan.
Kampus perlu menyediakan ruang bagi pertemuan gagasan yang berbeda. Perbedaan pendapat tidak selalu menunjukkan adanya persoalan. Dalam banyak situasi akademik, perbedaan justru menunjukkan adanya proses berpikir, pengujian argumentasi, dan pertukaran perspektif.
Pengalaman tersebut sering terlihat dalam proses penyusunan karya ilmiah. Seorang mahasiswa terkadang memperoleh arahan tertentu dari dosen pembimbing, kemudian menerima catatan berbeda dari dosen penguji. Situasi seperti ini sering menimbulkan kebingungan. Mahasiswa bahkan dapat merasa berada di antara dua pandangan yang tidak sepenuhnya sejalan.
Namun, perbedaan tersebut tidak selalu harus dipahami sebagai pertentangan. Mahasiswa sedang melihat karyanya dari lebih dari satu sudut pandang. Ada hal yang mendapat perhatian pembimbing, tetapi luput dari penguji. Sebaliknya, penguji dapat melihat persoalan yang sebelumnya belum menjadi perhatian pembimbing.
Di sinilah proses akademik menuntut kedewasaan berpikir. Mahasiswa tidak harus menerima setiap kritik tanpa proses pertimbangan. Mahasiswa juga tidak perlu memandang kritik sebagai serangan pribadi.
Kritik terhadap sebuah gagasan merupakan bagian dari tradisi ilmiah, selama kritik tersebut memiliki dasar argumentasi dan disampaikan melalui etika akademik.
Ketika sebuah gagasan dipertanyakan, mahasiswa belajar menyusun alasan. Ketika teori mendapat kritik, mahasiswa terdorong membaca sumber lain dan membandingkan berbagai pandangan. Ketika metode penelitian dipersoalkan, mahasiswa memiliki kesempatan untuk meninjau kembali dasar pemilihan metode tersebut.
Proses ini berkaitan erat dengan kebiasaan membaca. Semakin luas seseorang membaca, semakin banyak perspektif yang ditemuinya. Satu buku menawarkan pendekatan tertentu, sementara buku lain memberikan pandangan berbeda. Satu penelitian menghasilkan kesimpulan tertentu, penelitian lain dapat menghasilkan temuan yang tidak sama karena objek, metode, atau kondisi penelitian berbeda.
Perbedaan hasil dan pandangan tidak menunjukkan ilmu pengetahuan kehilangan arah. Perbedaan menjadi bagian dari proses pengujian. Sebuah teori diuji melalui penelitian, dikritisi melalui argumentasi, lalu dikembangkan atau diperbaiki berdasarkan temuan dan kajian berikutnya.
Jika seluruh proses akademik berhenti pada pengulangan pandangan yang sama, ruang pengujian akan semakin terbatas. Pertanyaan kritis kehilangan tempat, sementara argumentasi tidak lagi memperoleh kesempatan untuk diuji dari berbagai perspektif.
Semakin jauh seseorang belajar, semakin banyak hal yang belum diketahui. Seseorang yang mengenal satu pandangan berpotensi melihat pandangan tersebut sebagai satu-satunya cara memahami persoalan. Pengalaman membaca, berdiskusi, dan mengkaji berbagai sumber sering mengajarkan hal lain. Pengetahuan yang luas justru mengingatkan kita bahwa masih banyak perspektif yang perlu dipertimbangkan.
Perbedaan pemikiran, tentu, tidak berarti setiap pandangan bebas dari tanggung jawab akademik. Dunia pendidikan memiliki etika, metodologi, argumentasi, dan standar keilmuan. Setiap pendapat perlu memiliki dasar. Setiap kritik perlu diarahkan kepada gagasan. Perbedaan tidak seharusnya berubah menjadi serangan terhadap pribadi.
Di sisi lain, kesepakatan juga memiliki tempat dalam kehidupan kampus. Institusi membutuhkan aturan dan tata kelola agar seluruh proses pendidikan berjalan. Tetapi kesepakatan dalam tata kelola tidak harus berarti keseragaman dalam seluruh cara berpikir.
Kampus yang menjalankan kehidupan akademik secara baik bukan kampus yang menuntut setiap orang memiliki pandangan yang sama. Kampus merupakan ruang tempat argumentasi diuji, gagasan dipertemukan, dan perbedaan dikelola melalui dialog serta kaidah keilmuan.
Dosen dapat memiliki pendekatan berbeda dalam melihat suatu persoalan. Mahasiswa dapat mengajukan argumentasi yang berbeda selama memiliki dasar akademik. Peneliti juga dapat menghasilkan temuan yang berbeda dari penelitian sebelumnya. Perbedaan tersebut menjadi bagian dari proses perkembangan pengetahuan.
Kita kembali pada gambaran sebuah taman. Taman dengan satu jenis bunga mungkin tampak teratur. Tetapi keberagaman warna dan bentuk memberi pengalaman yang berbeda bagi siapa pun yang melihatnya. Dalam kehidupan akademik, perbedaan perspektif juga menghadirkan peluang untuk melihat persoalan dari sudut yang sebelumnya belum kita pertimbangkan.
Karena itu, mahasiswa tidak perlu langsung memandang perbedaan pendapat antara pembimbing dan penguji sebagai persoalan. Revisi merupakan bagian dari proses akademik. Setiap catatan perlu dibaca, dipertimbangkan, dan direspons melalui argumentasi yang memiliki dasar.
Pendidikan tidak sekadar melatih seseorang untuk memberikan jawaban. Pendidikan juga melatih kemampuan untuk mengajukan pertanyaan, mendengar pandangan lain, mempertimbangkan argumentasi, dan menempatkan perbedaan dalam proses berpikir yang sehat.
Lalu, apakah sebuah kampus harus berisi pemikiran yang seragam agar tampak baik?
Barangkali pertanyaan tersebut perlu kita renungkan kembali.
Kehidupan akademik tidak selalu membutuhkan kesamaan dalam setiap pandangan. Yang lebih diperlukan adalah kesediaan untuk berdialog, menguji argumentasi, menerima kritik, serta menghormati perbedaan yang memiliki dasar keilmuan.
Seperti taman yang memberi ruang bagi berbagai bunga untuk tumbuh dengan karakter masing-masing, kampus juga perlu menjadi ruang tempat berbagai gagasan bertemu dan diuji. Perbedaan tidak perlu diperlakukan sebagai ancaman selama seluruh pihak tetap berpegang pada etika, argumentasi, dan tanggung jawab akademik.
Sebab, pengetahuan tidak tumbuh karena semua orang berhenti pada pandangan yang sama. Pengetahuan berkembang ketika sebuah gagasan memperoleh ruang untuk diuji, dikritisi, dipertimbangkan, dan diperkaya oleh pandangan lain.






