Museum Tsunami Aceh Gandeng Iran untuk Perluas Jaringan Kuratorial Global

Avatar
Suasana kunjungan wisatawan di Museum Tsunami Aceh. Museum ini resmi menggandeng Pemerintah Iran untuk bertransformasi menjadi living museum melalui perluasan jaringan kuratorial global
Suasana kunjungan wisatawan di Museum Tsunami Aceh. Museum ini resmi menggandeng Pemerintah Iran untuk bertransformasi menjadi living museum melalui perluasan jaringan kuratorial global. 📷: Dok. Museum Tsunami/HO

ALIANSI.id — Museum Tsunami Aceh resmi memperluas jaringan kuratorial global dengan menggandeng Pemerintah Republik Islam Iran untuk mentransformasi institusi tersebut menjadi living museum (museum hidup). Langkah strategis ini diawali dengan hadirnya Kurator Museum Tsunami Aceh, Cut Intan Damayanti, sebagai panelis utama dalam webinar internasional bertajuk “Museum Centered Cultural Dialogues” pada Selasa (16/6/2026).

Kerja sama internasional ini merupakan tindak lanjut konkret dari kunjungan resmi Penasihat Kebudayaan Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Dr. Yahya Jahangiri, ke Aceh beberapa waktu lalu. Dalam webinar tersebut, Cut Intan memaparkan presentasi berjudul “Preserving Memories and Inspiring Future” yang berfokus pada standardisasi tata kelola trauma kolektif menjadi instrumen edukasi mitigasi bencana.

Baca juga :  Apresiasi Dukungan Cabang Dinas Pendidikan, PD PII Lhokseumawe Siap Cetak Kader Progresif

Hubungan bilateral ini menguat karena adanya kemiripan sosiologis dan ketangguhan spiritual antara masyarakat Aceh dan Iran dalam bangkit dari kelumpuhan total. Jika masyarakat Aceh sukses memulihkan diri dari konflik masa lalu serta bencana gempa dan tsunami 2004, masyarakat Iran juga memiliki proses pemulihan serupa pasca-Perang Iran-Irak.

Melalui momentum ini, Cut Intan Damayanti menegaskan bahwa fungsi museum di abad ke-21 telah mengalami pergeseran radikal dari sekadar tempat penyimpanan statis menjadi ruang yang hidup. Menurutnya, institusi ini wajib mengambil peran aktif dalam mengolah memori kolektif demi masa depan yang lebih baik.

Baca juga :  Perta Arun Gas Salurkan Daging Kurban ke 13 Desa Sekitar Lhokseumawe

“Museum harus mampu merawat ingatan atas tragedi masa lalu, baik karena perang, konflik, maupun bencana alam, kemudian mengubah memori tersebut menjadi energi positif serta inspirasi untuk membangun kehidupan yang lebih aman dan tangguh di masa depan,” kata Cut Intan.

Sinergi diplomasi kebudayaan ini diproyeksikan akan terus menggelinding ke arah program kolaborasi yang jauh lebih luas dan berdampak. Kedua belah pihak kini tengah menggodok rencana pertukaran program kuratorial, riset bersama mengenai arsip sejarah Timur, hingga kolaborasi pameran antara Museum Tsunami Aceh dan museum-museum terkemuka di Iran. []

Editor : Redaksi
Sumber : Ril