Ketika Seni Menjadi Ruang Diskusi Publik

Avatar
Ilustrasi acara nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi
📷: Ilustrasi. Dibuat dengan aplikasi AI

Oleh: Melisha Auliya R.*

Akhir-akhir ini media sosial ramai membahas film dokumenter Pesta Babi. Film ini menarik perhatian publik karena mengangkat persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan. Banyak komunitas kemudian mengadakan acara nonton bareng (nobar) dan diskusi sebagai ruang bertukar pandangan mengenai isi film tersebut.

Namun, di beberapa daerah, kegiatan diskusi tersebut sempat mengalami pembatalan dan pembubaran. Situasi ini memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebagian pihak menilai bahwa ruang diskusi seharusnya tetap dibuka, terutama ketika membahas isu sosial dan lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Baca juga :  Bukan Sekadar Forum Biasa, HMI Lhokseumawe Bedah 'Harta Karun' Blok Andaman

Film karya Dandhy Dwi Laksono bersama antropolog Cypri Paju Dale ini mencoba menampilkan kondisi yang terjadi di Papua Selatan, mulai dari perubahan lingkungan, proyek pembangunan, hingga dampaknya terhadap masyarakat adat. Melalui pendekatan dokumenter, film ini hadir bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga sebagai media refleksi sosial.

Pada dasarnya, seni dan film sering menjadi sarana untuk menyampaikan pandangan, kritik, maupun realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, munculnya perbedaan pendapat terhadap sebuah karya merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Diskusi publik justru dapat menjadi ruang untuk memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.

Baca juga :  Demokrasi dan Hak Asasi Manusia dalam Sistem Politik Indonesia

Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga stabilitas sekaligus memastikan pembangunan berjalan dengan baik. Oleh sebab itu, kritik yang muncul melalui karya seni sebaiknya dipandang sebagai masukan dan bahan evaluasi, bukan semata-mata sebagai ancaman. Dengan adanya dialog yang terbuka, masyarakat dapat lebih memahami kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah.

Makna judul Pesta Babi sendiri diambil dari tradisi budaya masyarakat Papua. Dalam film ini, judul tersebut digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan perubahan sosial dan lingkungan yang sedang terjadi. Pesan yang ingin disampaikan lebih mengarah pada ajakan untuk peduli terhadap kondisi masyarakat dan alam di sekitar kita.

Baca juga :  Pergub JKA dan Krisis Kepercayaan Politik di Aceh

Pada akhirnya, ruang diskusi dan kebebasan berpendapat merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan pandangan terhadap sebuah karya seni seharusnya dapat disikapi melalui dialog yang sehat dan terbuka. Dengan begitu, seni dapat tetap menjadi media refleksi sosial yang mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap berbagai persoalan di sekitarnya. []

*Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Malikussaleh

Penulis : Melisha Auliya R.
Editor : Redaksi